Kumpulan Dunia Pendidikan Anak Aceh

Minggu, 11 Oktober 2015

SEJARAH PERANG PADRI

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Padri adalah sebuah nama di daerah Padang. Yang mana di daerah inilah awal mulanya diterapkaknnya gerakan puritanisme di Indonesia. Gerakaan puritanisme adalah sebuah gerakan pemurnian ajaran agama islam yang telah terpengaruh atau telah tercemari oleh ajaran-ajaran yang datang dari luar islam. Gerakan ini pertama kali di pelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab, di Nejd. Berkat bantuan penguasa keluarga su’ud faham ini berkembang pesat di wilayah zajirah arabia, bahkan sempat menggoyahkan pemerintahan kerajaan turki ustmani.
Gerakan puritanisme ini dibawa masuk ke wilayah Indonesia oleh tiga orang kaum muda padri yang baru pulang kembali dari tanah suci selepas melaksanakan ibadah haji, mereka itu adalah haji miskin, haji sumanik, dan haji piobang pada tahun 1803 M. Mereka kemudian membentuk kelompok yang terkenal dengan kelompok Harimau Nan Salapan atau kaum muda padri mereka mengadakan penentangan terhadap prektek kehidupan beragama masyarakat Minang Kabau, yang telah terpengaruh oleh unsur-unsur tahayul, bid’ah, dan kurafat. Masyarakatnya sudah menyimpang jauh dari tradisi keagamaan yang telah ada.
Perjudian, penyabungan ayam, dan  lain sebagainya adalah contoh dari sebagian kecil perbuatan mereka yang waktu itu telah merupakan perbuatan atau suatu hal yang biasa. Oleh karena itu, kedatangan tiga orang  haji ini, yang kemudian bersekutu dengan tuanku Nan Renceh dan tuanku Imam Bonjol, melakukan gerakan kemurnian ajaran Islam. Karena aktivitas mereka dianggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau adat padri, maka kaum tua meminta bantuan Belanda pada tahun 1821-1837 M terjadilah perang padri.
Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu kaum Ulama mengalami kekalahan, Ulama dalam perang paderi dalam menghadapi Belanda, bukanlah mematahkan semangat para tokoh pejuang pembaharu itu, tetapi gerakannya semakin hebat.Gerakan pembaharuan itu tidak lagi bersifat politik agama, tetapi dialihkan kedalam gerakan pembaharuan pendidikan.Perang padri dianggap sebagai pembaharuan Islam karena tujuan dari perang padri adalah memiliki kekuasaan yang kuat dan dengan memiliki kekuatan atas kekuasaan kaum Ulama dapat menguatkan ajaran Islam yang telah banyak di tinggalkan.

BAB II
PEMBAHASAN
Padri adalah sebuah nama di daerah Padang. Yang mana di daerah inilah awal mulanya diterapkaknnya gerakan puritanisme di Indonesia. Gerakaan puritanisme adalah sebuah gerakan pemurnian ajaran agama islam yang telah terpengaruh atau telah tercemari oleh ajaran-ajaran yang datang dari luar islam. Gerakan ini pertama kali di pelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab, di Nejd. Berkat bantuan penguasa keluarga su’ud faham ini berkembang pesat di wilayah zajirah arabia, bahkan sempat menggoyahkan pemerintahan kerajaan turki ustmani.
Gerakan puritanisme ini dibawa masuk ke wilayah Indonesia oleh tiga orang kaum muda padri yang baru pulang kembali dari tanah suci selepas melaksanakan ibadah haji, mereka itu adalah haji miskin, haji sumanik, dan haji piobang pada tahun 1803 M. Mereka kemudian membentuk kelompok yang terkenal dengan kelompok Harimau Nan Salapan atau kaum muda padri mereka mengadakan penentangan terhadap prektek kehidupan beragama masyarakat Minang Kabau, yang telah terpengaruh oleh unsur-unsur tahayul, bid’ah, dan kurafat. Masyarakatnya sudah menyimpang jauh dari tradisi keagamaan yang telah ada.
Perjudian, penyabungan ayam, dan  lain sebagainya adalah contoh dari sebagian kecil perbuatan mereka yang waktu itu telah merupakan perbuatan atau suatu hal yang biasa. Oleh karena itu, kedatangan tiga orang  haji ini, yang kemudian bersekutu dengan tuanku Nan Renceh dan tuanku Imam Bonjol, melakukan gerakan kemurnian ajaran Islam. Karena aktivitas mereka dianggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau adat padri, maka kaum tua meminta bantuan Belanda pada tahun 1821-1837 M terjadilah perang padri.
Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu kaum Ulama mengalami kekalahan, Ulama dalam perang paderi dalam menghadapi Belanda, bukanlah mematahkan semangat para tokoh pejuang pembaharu itu, tetapi gerakannya semakin hebat.Gerakan pembaharuan itu tidak lagi bersifat politik agama, tetapi dialihkan kedalam gerakan pembaharuan pendidikan.Perang padri dianggap sebagai pembaharuan Islam karena tujuan dari perang padri adalah memiliki kekuasaan yang kuat dan dengan memiliki kekuatan atas kekuasaan kaum Ulama dapat menguatkan ajaran Islam yang telah banyak di tinggalkan.[1]
Kondisi pada saat itu daerah Minangkabau jauh dari apa yang Islam ajarkan dan syariat oleh Agama Islam. para Ulama giat mengadakan ceramah-ceramah, pengajian, mendirikan Madrasah dan pondok pesantren yang diberi nama Sumatera Thawalib. Pengaruh gerakan ini lalu meluas keseluruh tanah air yang diikuti dengan bermunculannya berbagaiorganisasi Islam pada zaman pergerakan nasional di Indonesia pada Abad ke-20 Masehi.
A.  Gerakan Padri.
Gerakan padri, merupakan pergerakan keagamaan yang terinspirasi oleh gerakan wahabi. Gerakan ini pada awalnya merupakan gerakan pembaharuan (modernis) diawal abad 18, yang dilakukan Tuanku Nan Tuo dan murid-muridnya di Surau kuto Tuo, Agam.
Kemunculan gerakan ini merupakan reaksi balik atas pengamalam agama yang dilakukan kaum Adat yang banyak menyimpang dari ajaran Islam.Gerakan ini kemudian mendapat sambutan dari ulama “tiga serangkai” Minangkabau, sekembalinya mereka dari Mekkah pada tahun 1803.Dalam melaksanakan dakwahnya yang berupaya mengikis khurafat dan bid’ah dalam praktek beragama umat Minangkabau, gerakan ini mengambil pendekatan keras dan radikal.
Dengan membawa semangat pembaharuan gerakan wahabi, mereka berusaha untuk mengikis habis praktik-praktik adat  dari unsur khurafat dan bid’ah. Upaya ini dilakukan baik melalui pelaksanaan pendidikan salaf disurau-surau, maupun langsung berdebat secara frontal dengan kaum adat.Upaya dakwah yang demikian kurang disenangi, bahkan mendapat tantangan keras dari kaum adat yang berfikiran ortodok.
Pelaksanaan pemurnian yang dibawa para ulama Minangkabau tidak berjalan mulus.Bahkan dalam melaksanakan dakwahnya para ulama Minangkabau selalu harus berhadapan dengan kaum Adat.Hal yang serupa umpamanya juga dialami oleh H. Miskin. Melalui suraunya, ia mencoba melakukan serangkaian pembaharuan di Batu Tebal dan Pantai Sikat harus lari ke lintau. Akan tetapi usahanya tersebut mengalami hambatan.Padahal, bernagai pendekatan persuasif telah dilakukannya. Di antaranya, ia telah melakukan pendekatan dengan Penghulu Desa. Akan tetapi, ide pembaharuannya tetap ditolak oleh masyarakat setempat. Ketidak senangan kaum Adat terhadap kaum modernis dilampiaskan dengan cara menyerang dan membakar desa-desa di mana kaum modernis  menyebarkan ide pembaharuannya. Akibatnya banyak di anatara kaum modrnis yang terpaksa menyelamatkan diri dari satu desa ke desa yang lain, hingga ke Bukit Kemang. Di daerah ini, kaum modernis mendapat perlindungan dari Tuanku Nan Renceh, seorang murid kesayangan Tuanku Nan Tuo, bahkan mendukung gerakan kaum modernis dalam menyebarkan gerakan Wahabi. Disinilah awal terbentuknya Gerakan Paderi, dalam melaksanakan ide pembaharuannya.
Karena sering mendapat tantangan dari kaum Adat dan masyarakat setempat, kaum modernis tidak segan-segan melakukan penyerangan dan bahkan dengan membakar.
Pendekatan ini akhirnya membuat Tuanku Nan Tuo tidak simpatik dan tidak mau menggunakan pengaruhnya untuk membantu perjuangan kaum Padri.Untuk itu, kaum Padri kemudian melakukan dukungan dengan para ulama lainnya yang memiliki pengaruh dalam komunitas masyarakat Minangkabau, di antaranya Tuanku Mansianang.
B.  Upaya Yang Dilakukan Kaum Padri.
Upaya yang dilakukan kaum Padri dalam memurnikan ajaran Islam dari khurafat dan bid’ah, tetap berlangsung, meskipun dengan berbagai tantangan dan hambatan dari kaum Adat.Pada tahun 1870 pemerintah kolonial Belanda menerapkan undang-undang yang mengatur hidup rakyat banyak, termasuk kehidupan keagamaan mereka.Karena kebijakan dan perilaku-perilaku yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dan kepentingan minoritas Kristen yang kontra produktif dengan kenyataan masyarakat pribumi yang beragama Islam, muncullah beberapa usaha perlawanan dalam bentuk perang.Salah satunya yang disebut perang padri (1821-1838) di Minangkabau.Agresi pembaharu ini disebut kaum paderi.
Dalam proses ini, sesungguhnya eksistensi kaum Padri dapat dilihat dari dua pendekatan:
Pertama, secara eksternal, gerakan ini gerakan ini telah berhasil membangkitkan semangat nasionalisme umat Islam, terutama intervensi kolonial Belanda.Bahkan keberadaan gerakan ini telah merepotkan dan telah menyebabkan kolonial Belanda menelan kerugian yang cukup besar, baik materi maupun non materi.sikap konsistensi ini telah membuktikan bagaimana sesungguhnya surau telah ikut andil dalam membentuk sikap istiqamah umat Islam.
Kedua secara internal, sesungguhnya gerakan ini gagal dalam membumikan pemikiran pembaharuannya.Hal ini dapat terlihat dari suburnya praktik adat yang bersifat sinkretis dalam praktik kehidupan beragama umat Islam Minangkabau.
Di sisi lain, karena islam yang masuk di Minangkabau lebih didominasi melalui pendekatan tarekat. Pendekatan penyiaran Islam dilakukan secara lunak.Akibatnya beberapa praktik adat yang sinkretis masih tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial umat Islam Minangkabau.
Pada era sesudahnya meskipun gerakan Padri gagal dalam upaya meluruskan praktik ibadat umat Islam dari unsur khurafat dan bid’ah, namun gerakan pembaharuan tetap berlangsung.Sebagian besar dari tokoh gerakan ini merupakan ulama Minangkabau yang pernah belajar di Mekkah, dibawah  bimbingan syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang bermazhab Syafi’i. kemerdekaan berfikir dan berijtihad yang ditanamkan Ahmad Khatib meresap pada murid-muridnya. Akan tetapi tidak semua hal mereka sepakat dengan pandangan gurunya itu.
Sementara itu, sejak awal 1900-an gelombang besar kedua pembaharuan Islam kembali melanda Minangkabau. Kali ini di bawa murid-murid Syekh Ahmad khatib.Mereka yang biasa disebut Kaum Muda ini dengan sengit menyerang Kaum Tua, yang pada umumnya adalah para pemimpin dan pengajar di surau-surau.Kaum Muda menuduh surau dengan praktek tarekatnya, penuh dengan bid’ah dan khurafat, dan karena itu perlu diberantas.
Karena itulah, Kaum Muda mendirikan Madrasah modern sebagai alternatif pendidikan surau.Dan mereka sukses besar dengan upaya ini, sehingga bahkan banyak surau yang ditransformasikan menjadi Madrasah.Akibatnya murid surau merosot hebat.Tahun 1933 surau dilaporkan memiliki murid hanya sekitar 9.285 orang, sementara Madrasah mempunyai 25.292 pelajar.
1. Pengertian Perang Padri.
Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Istilah Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang selalu berpakaian putih. Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah putih. Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam.
Selain itu juga ada yang berpendapat bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah orang Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke Mekah melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.
Adapun tujuan dari gerakan Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat. (Mawarti, Djoened PNN, 1984:169).2 Sebab Awal Terjadinya Perang Padri[2]
2. Penyebab Perang Padri

Pada awalnya perang Padri disebabkan pertentangan antara golongan Adat dengan golongan Padri. Masing-masing berusaha untuk merebut pengaruh di masyarakat.

Kaum adat adalah orang-orang yang masih teguh dalam mempertahankan adat didaerahnya sehingga mereka tidak berkenan dengan pembaharuan yang dibawa oleh kaum Padri. Agama Islam yang dijalankan kaum adat sudah tidak murni, tetapi telah terkontaminasi atau telah terkontaminasi dengan budaya setempat.
Kaum Padri adalah golongan yang berusaha menjalankan Agama Islam secara murni sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.
Setealah kaum Adat mengalami kekalahan, mereka meminta bantuan kepada Belanda yang akhirya konflik ini berkembang menjadi konflik antara kaum Padri dengan Belanda.
3Periodesasi Gerakan Padri.
Secara umum perang Padri dibagi dalam dua periode yaitu :
A. Periode 1803 – 1821 (Perang antara Kaum Padri Melawan kaum Adat).
1. Sebab terjadinya Perang.
Pada tahun 1803, Minangkabau kedatangan tiga orang yang telah menunaikan ibadah haji di Mekah, yaitu: H. Miskin dari pantai Sikat, H. Sumanik dari Delapan Kota, dan H. Piabang dari Tanah Datar. Di Saudi Arabia mereka memperoleh pengaruh gerakan Wahabi, yaitu gerakan yang bermaksud memurnikan agama Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Mereka yang hendak menyebarkan aliran Wahabi di Minangkabau menamakan dirinya golongan Paderi (Kaum Pidari).
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki kaum Padri terhadap kaum Adat karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakatdi kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan buruk yang dimaksud sepertiperjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. kebiasaan ini semakin meluas     danmempengaruhi kaum mudanya.

Ternyata aliran wahabi ini ditentang oleh Kaum Adat (ajaran Islam yang bercampur dengan adat setempat) yang terdiri dari pemimpin-pemimpin adat dan golongan bangsawan.

Pertentangan antara kedua belah pihak itu mula-mula akan diselesaikan secara damai, tetapi tidak terdapat persesuaian pendapat. Akhirnya Tuanku Nan Renceh menganjurkan penyelesaian secara kekerasan sehingga terjadilah perang saudara yang bercorak keagamaan dengan nama Perang Padri (1803 – 1821).
2. Jalanya Perang.
Perang saudara ini mula-mula berlangsung di Kotalawas. Selanjutnya menjalar ke daerah-daerah lain. Pada mulanya kaum Paderi dipimpin Datuk Bandaro melawan kaum Adat di bawah pimpinan Datuk Sati. Karena Datuk Bandaro meninggal karean terkena racun, selanjutnya perjuangan kaum Padri dilanjutkan oleh Muhammad Syahab atau Pelo (Pendito) Syarif yang kemudian dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol karena berkedudukan di Bonjol. Tuanku Imam merupakan anak dari Tuanku Rajanuddin dari Kampung Padang Bubus,Tanjung Bungo,daerah Lembah Alahan Pajang.Dalam perang itu, kaum Padri mendapat kemenangan di mana-mana.
Sejak tahun 18815 kedudukan kaum Adat makin terdesakkarena keluarga kerajaan Minangkabau terbunuh di Tanah Datar, sehingga kaum Adat (penghulu) dan keluarga kerajaan yang masih hidup meminta bantuan kepada Inggris (di bawah Raffles yang saat itu masih berkuasa di Sumatera Barat).
Karena Inggris segera menyerahkan Sumatera Barat kepada Belanda, maka kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda, dengan janji kaum Adat akan menyerahkan kedaulatan seluruh Minangkabau (10 Februari 1821). Permintaan itu sangat menggembirakan Belanda yang memang sudah lama mencari kesempatan untuk meluaskan kekuasaannya ke daerah tersebut.
3. Pemimipin yang terlibat.
Kaum Pidari dipimpin oleh Datuk Bandaro, Datuk Malim Basa,Tuanku Imam Bonjol Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Nan Cerdik.
Kaum Adat dipimpin oleh Datuk Sati.
B. Periode 1821 – 1838 (Perang antara Kaum Padri Melawan Belanda).
Sejak disetujuinya perjanjian antar kaum adat dengan Belanda mengenai penyerahan kerajaan Minangkabau kepada Belanda pada tanggal 10 Februari 1821, hal ini menjadi tanda dimulainya keikutsertaan Belanda dalam melawankaum Padri.
Dalam perang antara kaum Padri melawan Belanda, jalanya perang dibagi menjadi tiga periode:
1. Periode I (Tahun 1821 – 1825).
Periode pertama ini ditandai dengan meletusnya perlawanan di seluruh daerah Minangkabau. Di bawah pimpinan Tuanku Pasaman, kaum Paderi menggempur pos-pos Belanda yang ada di Semawang, Sulit Air, Sipinan, dan tempat-tempat lain. Pertempuran menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Tuanku Pasaman, kemudian mengundurkan diri ke daerah Lintau, sebaliknya Belanda yang telah berhasil menguasai lembah Tanah Datar, mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar ( Fort Van den Capellen) dan Benteng Fort de Kockdi Bukittinggi.
Ternyata Belanda hanya dapat bertahan di benteng-benteng itu saja.
Daerah luar benteng masih tetap dikuasai oleh kaum Pidari. Belanda mengalami kekalahan di mana-mana, bahkan pernah mengalami kekalahan total di Muara Palam dan di Sulit Air.
Untuk itu, Belanda mulai mendekati kaum Padri ntuk melakukan perdamaian dan pada tanggal 22 Januari 1824 Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum Padri di Masang dan di daerah VI Kota, isinya: kedua belah pihak akan mentaati batasnya masing-masing. Adanyaperundingan ini sebenaranya hanya menguntungkan pihak Belanda untk menunda waktu guna memperkuatdiri.Setelah berhasil memperkuat pertahannanya,Belanda tidak mau mentaati perjanjian dan dua bulan kemudian Belanda meluaskan daerahnya.
2. Periode II (Tahun 1825 – 1850).

Pada periode ini ditandai dengan meredanya pertempuran. Kaum Padri perlu menyusun kekuatan, sedangkan pihak Belanda dalam keadaan sulit, sebab baru memusatkan perhatiannya dan pengeriman pasukan untuk menghadapi perlawanan Diponegoro di Jawa Tengah.

Belanda mencari akal agar dapat berdamai dengan kaum Padri. Dengan perantaraan seorang bangsa Arab yang bernama Said Salima ‘Ijafrid, Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum Padri tanggal 15 November 1825 di Padang, yang isinya:
Kedua belah pihak tidak akan saling serang menyerang.
Kedua belah pihak saling melindungi orang-orang yang sedang pulang kembali dari pengungsian.
Kedua belah pihak akan saling orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan berdagang.
Belanda akan mengakui kekuasaan Tuanku-Tuanku di Lintau, Limapuluhkota, Telawas dan Agam.
3. Periode III (Tahun 1830-1838).
Periode ketiga ini ditandai dengan perlawanan di kedua belah pihak makin menghebat. Perang Diponegoro di Jawa Tengah telah dapat diselesaikan Belanda dengan tipu muslihatnya. Perhatiannya lalu dipusatkan lagi ke Minangkabau. Maka berkobarlah Perang Padri periode ketiga.
Belanda telah mengingkari Perjanjian Padang. Pertempuran mulai berkobar di Naras daerah Pariaman. Naras yang dipertahankan oleh Tuanku Nan Cerdik diserang oleh Belanda sampai dua kali tetapi tidak berhasil. Setelah Belanda menggunakan senjata yang lebih lengkap di bawah pimpinan Letnan Kolonel Elout yang dibantu Mayor Michiels, Naras dapat direbut oleh Belanda.
Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol, selanjutnya daerah-daerah kaum Pidari dapat direbut oleh Belanda satu demi satu, sehingga pada tahun 1832 Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda.
Pada tahun 1832, Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan Belanda. Akan tetapi ketenteraman itu tidak dapat berlangsung lama, karena rakyat diharuskan:
• Membayar cukai pasar dan cukai mengadu ayam.
• Kerja rodi untuk kepentingan Belanda.
Dengan hal-hal tersebut di atas, sadarlah kaum Adat dan kaum Pidari bahwa sebenarnya mereka itu hanya diperalat oleh Belanda. Perasaan nasionalisme mulai timbul dan menjiwai mereka masing-masing. Selanjutnya terjadilah perang nasional melawan Belanda. Pada tahun 1833 seluruh rakyat Sumatera Barat serentak menghalau Belanda. Bonjol dapat direbut kembali dan semua pasukan Belanda di dalamnya dibinasakan. Karena itu Belanda mulai mempergunakan siasat adu domba (devide et empera).
Dikirimkanlah Sentot beserta pasukan-pasukannya yang menyerah kepada Belanda waktu Perang Diponegoro ke Sumatera Barat untuk berperang melawan orang-orang sebangsanya sendiri. Tetapi setelah Belanda mengetahui bahwa Sentot mengadakan hubungan dengan kaum Pidari secara rahasia, Belanda menjadi curiga.

Pasukan Sentot ditarik kembali ke Batavia dan Sentot diasingkan ke Bangkahulu.

Untuk mengakhiri Perang Padri itu, Belanda berusaha menarik hati para raja di Minangkabau dengan cara mengeluarkan Plakat Panjang (1833) yang isinya:
Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak berat dan pekerjaan rodi.
Perdagangan hanya dilakukan dengan Belanda saja.
Kepala daerah boleh mengatur pemerintahan sendiri, tetapi harus menyediakan sejumlah orang untuk menahan musuh dari dalam atau dari luar negeri.
Para pekerja diharuskan menandatangani peraturan itu. Mereka yang melanggar peraturan dapat dikenakan sanksi.
4 Akhir Perang Padri.
Di tahun 1835 kaum Padri di Bonjol mulai mengalami kemunduran, hal tersebut disebabkan ditutupnya jalan-jalan penghubung dengan daerah lain oleh paskan Belanda. Pada tanggal 11-16 Juni 1835 sayap kanan pasukan Belanda berhasil menutup jalan yang menghubungkan benteng Bonjol dengan daerah barat dan menembaki benteng Bonjol.
Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda,. Membaca situasi yang gawat ini, pada tanggal 10 Agustus 1837, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Belanda menduga bahwa ini merupakan siasat dari Tuanku Imam Bonjol guna mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar benteng.

Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837. Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda.

Pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda. Tuanku Imamm Bonjol kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 19 Januari 1839 dibuang ke Ambon, lalu pada tahun 1841 dipindahkan ke Manado hingga meninggal dunia pada tanggal 6 November 1864.

Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi, namun Tuanku Tambusi berhasil dikalahkan oleh Belanda pada tanggal 28 Oktober 1838.

Dengan demikian, secara umum perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir tahun 1838. Maka kekuasaan Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.[3]

BAB III
PENUTUP
1.Kesimpulan.
Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini berawal dari konflik internal antara kaum adat dengan kaum Padri (orang-orang yang ingin meluruskan ajaran Islam).
Perang ini terjadi dalam dua periode, yaitu:
Periode I 1803-1821 (Perlawanan kaum Padri dengan kaum Adat)
 Periode II 1821-1838 (Perlawanan kaum Padri dengan Belanda).
Dalam perang melawan Belanda, dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
Tahap I 1821-1825 (meningkatnya perlawanan rakyat).
Tahap II 1825-1830 (perlawanan menurun, Belanda fokus pada perang Diponegoro di Jawa Tengah).
Tahap III 1830-1838 (Kaum Padri mengalami kekalahan).
Akhir dari perang padri ditandai dengan semakin banyaknya wilayah kekuasaan kaum padri yang  jatuh ketangan Belanda, selain itu juga menyerahnya Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda Pada tanggal25 Oktober1837.
Dengan demikian, secara umum perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir tahun 1838. Maka kekuasaan Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.

2.Saran

Dengan adanya makalah ini penulis berharap supaya pembaca dapat mengetahui serta menambah wawasan tentang perang Padri yang terjadi tahun 1803-1838. Penulis menyarakan supaya pembaca mencari sumber referensi lain supaya pengetahuan semakin luas. Dan semoga makalah ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme kita terhadap bangsa Indonesia.


[1] .Evi Aryanto.2010.Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI IPS Semester 2. Sukoharjo: William.
1 .Mawarti J. Poesponegoro. 1984.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
2. Rickleft.1999. Sejarah Indonesia Moderen. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
1. Kardiyat Wiharyanto. 2006.Sejarah Indonesia Madya Abad XIV-XIX. Yogyakarta: Universitas Santana Dharma.
1. Habib, Mustopo. 2007.Sejarah SMA Kelas XI Program IPS. Jakarta: Yudistira


1 komentar:

  1. Jammy Monkey | casino, gambling, entertainment, poker, gambling
    Jammy Monkey, a new 수원 출장마사지 poker game based on the popular 양주 출장샵 American family classic and also available on 통영 출장샵 mobile. 군산 출장안마 Play 포항 출장마사지 your favorite slots, table games,

    BalasHapus